Bisnis di Dunia motor
Rental Moto road race Mini, Omsetnya Tidak Sekecil Motornya
Posted by indraharjanto on September 18, 2008
Jangan biarkan lahan Anda ditumbuhi semak belukar, jadikan sirkuit moto road race mini. Pada hari libur Anda bisa mengantongi Rp 700 ribu per hari.
Seringkali orang memiliki lahan yang tidak produktif dan hanya ditumbuhi semak belukar. Aset tidak produktif ini bisa diubah menjadi aset produktif tanpa terlalu banyak merogoh biaya. Salah satunya adalah mengubahnya menjadi sirkuit moto road race mini, seperti yang ditempuh Amir Yusuf, warga, Cibinong, Bogor ini.
Dengan memanfaatkan tanah kosong seluas satu hektar, dirinya nekat membuka usaha sewa motor mini, plus sirkuitnya, untuk anak-anak yang keberadaannya terbilang masih jarang. Ide membuat usaha rental motor dan sirkuit mini tersebut, sebenarnya bermula dari iseng-iseng. Awalnya, Yusuf melihat sang buah hatinya sering bermain motor mini berukuran 50 cc, setiap sore di area tempat pencucian mobil miliknya.
Saat mulai membuka rental moto road race mini ini, pria kelahiran 39 tahun silam tersebut tak sekaligus membeli banyak motor, tetapi merintis secara perlahan-lahan.”Pertamakali memulai usaha ini, saya hanya membeli dua motor mini, seharga Rp 2 juta. Tapi setelah berjalan sebulan, peminat makin bertambah, dan saya memutuskan untuk terus menambah motor,”ucap Yusuf yang kini telah mempunyai 11 motor mini.
Sistem penggunaan sewa motor mini tersebut dengan cara membeli tiket. Untuk satu tiketnya dijual dengan harga Rp7000. Dengan membeli satu tiket pengunjung yang kebanyakan anak-anak berusia 10-15 tahun itu bisa menikmati menjadi pembalap walaupun hanya tujuh kali putaran di sirkuit mini.
Selain menyewakan moto road race mini dan sirkuitnya,Yusuf dan delapan orang pekerjanya tersebut juga menerima servis motor serupa yang rusak. Setiap minggunya, tempat usaha yang diberi nama Sirkuit Canchiel ini menerima 2-3 jenis motor mini yang akan diservis.
Bisnis ini memang terpengaruh musim. Namun secara keseluruhan prospeknya bagus. Apalagi jika sirkuit mini terletak tidak jauh dari perumahan-perumahan, yang kebanyakan merupakan keluarga muda dengan anak-anak yang belum beranjak dewasa. Dipastikan omsetnya tidak sekecil motornya.
Sarung Sepatu Anti Air di Musim Hujan, Uang Terus Mengalir
Posted by indraharjanto on September 18, 2008
Meskipun hanya elemen kecil bagi pengendara motor, sarung sepatu anti air buatan Gunarso menguasai pasar Indonesia bahkan tembus Australia.
Ketika musim hujan tiba, para pengendara sepeda motor sering dibuat jengkel. Apalagi, jika saat itu si pengendara sepeda motor tengah dikejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan, memaksanya untuk menembus derasnya hujan. Tak ada pilihan selain ‘berhujan ria’ dengan kondisi basah kuyup sesampainya di tempat tujuan.
Tetapi kondisi ini jelas merugikan si pengendara sepeda motor. Selain pakaian basah, sepatu pun bisa terkena dampaknya. Meski sepatu berada di bagian bawah tubuh, tetapi memiliki nilai ketika hendak bertemu relasi. Kondisi basah dan lembab, jelas bukan kondisi yang menyenangkan. Oleh karena itu, sarung sepatu anti air merupakan langkah tepat untuk mengatasinya.
“Keamanan dapat terjamin. Ketahanan dalam manufer berkendara tidak akan terganggu meskipun menggunakan sarung sepatu. Ukurannya yang all size, pengendara dengan leluasa dapat pindah dari gigi satu ke gigi lainnya secara mudah. Keamanan berkendara pun didukung oleh bahan bagian telapak sarung sepatu yang terbuat dari karet, sehingga bersifat elastis dan fleksibel. Bentuk pola teksturnya pun mengikuti sepatu aslinya. Jadi tak perlu khawatir terpeleset,” kata Gunarso.
Menggabungkan tempat usaha dengan hunian pribadi di Perumahan Bukit Rivaria Depok, Gunarso optimis usahanya memiliki peluang, meski terpengaruh faktor cuaca. Dengan analisa kasar bertambahnya populasi pengendara motor setiap tahunnya maka memberikan celah bagi sarung sepatu anti hujan. Belum lagi, masih jarangnya pengendara motor yang menggunakan sarung sepatu tersebut. Sedangkan, menurutnya, produk yang dibuatnya baru berkisar ribuan pasang, jadi dinilai tidak sebanding dengan populasi yang ada.
Sekalipun ada beberapa kompetitor di bisnis sejenis, ia tetap berkeyakinan, produk berlabel ‘DR’ mampu bersaing. “Pengguna lebih menyukai produk ‘DR’ karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah. Saya pun tak perlu khawatir, biasanya pesanan pun datang dari dealer-dealer motor terkenal. Namun, untuk labelnya diganti dengan brand motor tersebut. Mereka pesan biasanya untuk souvenir jika ada pembeli baru atau untuk hadiah,” terangnya yang menjual produknya seharga Rp 20 ribu per pasang..




